Berdasarkan hasil pantauan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), ditemukan banyak tayangan Ramadhan yang terindikasi tidak relevan dengan spirit Ramadhan. Meskipun menggunakan nama yang bertalian dengan Ramadhan, muatannya kurang sejalan dengan nilai Islam.
"Bulan suci Ramadhan adalah tambang penghasilan sehingga orang yang tidak tahu mengambil kesimpulan, dapat menayangkan tanpa menggunakan pakem siaran yang ada," ujar Sekretaris Umum MUI Ikhwan Syam dalam konferensi pers "Hasil Pantauan MUI terhadap Tayangan Televisi pada Pekan Pertama Ramadhan", di Gedung MUI, Kamis (3/9).
Ia mengatakan, ciri umum ketidaksesuaian dengan spirit Ramadhan adalah banyaknya dialog dan adegan yang saling merendahkan, melecehkan, serta makian kasar. Kesemua hal tersebut paling banyak terjadi pada acara komedi yang ditayangkan secara langsung.
Selain itu, spirit Ramadhan hanya diserap sebagian program dan hanya sekadar aspek simboliknya. Bahkan bukan simbol Islam, tapi simbol budaya Arab, seperti unta, aksen bicara bergaya Arab, dan padang pasir.
Namun, tayangan-tayangan tersebut tidak mempunyai muatan edukasi berarti. Kecenderungan yang ditampilkan hanya mengedepankan hiburan lelucon yang disajikan dengan kata-kata kasar dan makian. Hampir semua program terkesan jauh dari Ramadhan.
Ikhwan menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, tayangan bulan Ramadhan seharusnya berbeda dengan bulan-bulan lainnya. "Bulan baik yang harus dijaga, dan jangan sampai membuat umat Muslim resah. Jangan pula membuat anak-anak merasa tidak ada bedanya dengan bulan biasa," kata dia. (kompas.com)
















0 komentar:
Posting Komentar