Bukannya bersyukur eksekusi mati atas dirinya ditunda, Romell Broom malah makin stress. Napi di penjara negara bagian Ohio, Amerika Serikat, itu seharusnya sudah disuntik mati Selasa lalu.
Pasalnya, kendati sudah menempatkan Broom di kursi eksekusi, sang algojo kesulitan menemukan urat darah halus pada lengan terhukum. Situasi itu berlangsung selama dua jam sebelum akhirnya muncul perintah dari Gubernur Ohio, Ted Strickland, bahwa pelaksanaan suntik mati harus ditunda.
Biasanya, penundaan eksekusi hanya berlangsung beberapa jam. Namun, dengan alasan ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan para penasihatnya, gubernur menunda eksekusi mati untuk Broom selama satu pekan.
Apakah penundaan itu membuat Broom senang? Sama sekali tidak. Bahkan, menurut pengacaranya, Broom kini menderita trauma secara fisik maupun mental karena dirinya tetap akan dieksekusi walau menunggu selama seminggu.
"Tentu sungguh tak mengenakkan bila harus menunggu bencana yang akan dia alami," kata pengacara Broom, Adele Shank. Sebagai pengacaranya, Shank kini membujuk Broom untuk memanfaatkan waktu penundaan eksekusi dengan mengajukan pengampunan sekaligus keringanan hukuman kepada gubernur Ohio.
Menurut data dari penjara, yang dipublikasikan Rabu lalu, algojo sulit menemukan urat yang tepat pada lengan Broom untuk ditembus dengan jarum suntik. Petugas penjara curiga bahwa Broom mengkonsumsi narkoba sehingga membuat urat darah halus di lengannya sulit ditemukan.
Juru bicara penjara, Julie Walburn, mengungkapkan bahwa Broom pernah mengaku dia dulu pengguna berat heroin. Pria berusia 53 tahun itu dijatuhi hukuman mati setelah dinyatakan bersalah memperkosa dan membunuh gadis berusia 14 tahun pada September 1984.
Pemerintah negara bagian Ohio masih memberlakukan hukuman suntik mati. Sejak 1999, sudah 32 napi yang menjalani hukuman itu. (AP)
• VIVAnews
Kamis, 17 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)















0 komentar:
Posting Komentar