Minggu, 30 Agustus 2009

Mengunjungi Perkampungan Zikir Pimpinan Ustad Arifin Ilham di Sentul, Bogor

Penghuni Wajib Salat Jamaah dan Tak Merokok

Berkat bantuan Presiden Libya Moammar Khadafi, Ustad Arifin Ilham membangun kampung Az-Zikra di kawasan Sentul, Bogor. Ada syarat khusus untuk bisa tinggal di kampung tersebut. Seperti apa?

ROBI J.-DEDI M., Bogor

---

Tak sulit untuk menemukan Perumahan Bukit Az-Zikra. Perumahan yang berada di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, itu sudah dapat dilihat dari Tol Jagorawi. Di pintu masuk perumahan terdapat sebuah papan reklame berukuran 2 x 10 meter bertulisan Qaddafy Islamic Center (QIC).

Siang itu puluhan warga terlihat bergegas me­nuju masjid begitu suara azan duhur berkumandang. Setelah salat, jamaah mendengarkan kultum (kuliah tujuh menit) atau kuliah singkat dari sang imam Ustad Arifin Ilham. Acara tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilakukan selesai salat.

Setelah kultum, beberapa warga menuju ke rumah sang ustad yang berada di samping masjid, kompleks QIC. Di luar, puluhan anak kecil asyik bermain layang-layang. Ada juga yang bermain sepeda.

Di rumah yang merupakan hadiah dari Presiden Libya Moammar Khadafi itu, warga sering curhat dan diskusi soal apa pun kepada Ustad Arifin. Topik diskusi mereka seputar kehidupan sehari-hari dan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Tak jarang, sang ustad melontarkan guyon kepada para tamu.

''Saya pasti ke sini kalau ada Ustad Arifin. Seluruh warga sangat menghormati Ustad Arifin,'' kata M. Solihin, salah seorang warga.

Pria yang juga anggota TNI-AD itu mengatakan, keberadaan Perumahan Bukit Az-Zikra sangat menguntungkan warga. Bagi warga, Ustad Arifin juga sudah dianggap seperti keluarga sendiri. ''Kemarin warga baru mendapatkan bantuan beras,'' tuturnya.

Perumahan Bukit Az-Zikra bukan hasil jerih payah Ustad Arifin sendiri. Dia bekerja sama dengan pengembang. Kompensasinya, pengembang mewakafkan tanah 5 hektare dari total 28 hektare untuk dibangun Masjid Moammar Khadafi dan QIC.

''Sisa lahan dikelola pengembang untuk mencari keuntungan. Kebetulan kami mengajak masyarakat yang sering ikut berzikir untuk membeli,'' ujar Ustad Arifin kepada IndoPos (Jawa Pos Group) pada Kamis lalu (27/8).

Menurut Ustad Arifin, selain membeli rumah dan tanah, syarat bagi masyarakat untuk tinggal di Bukit Az-Zikra sangat mudah. Cuma ada dua persyaratan. Pertama, mau melakukan salat berjamaah di masjid. Kedua, tidak merokok.

''Kalau sudah sering ke masjid, tentunya mereka juga sering salat. Sebenarnya orang yang merokok boleh tinggal. Hanya diharapkan setelah tinggal di sini mereka berhenti merokok. Dan, orang-orang di sekitarnya menasihati untuk berhenti merokok,'' jelas suami Wahyuniati Al-Wali itu.

Menurut Ustad Arifin, di lahan 23 hektare itu akan didirikan 2.000 unit rumah. Selain tipe menengah, ada tipe mewah dua lantai. Pem­bangunan perumahan dimulai pada 2006. Saat ini sudah dibangun 600 unit.

Ustad Arifin juga tinggal di lingkungan perumahan itu. Rumahnya berada persis di kiri Masjid Moammar Khadafi. Masjid tersebut juga sumbangan langsung dari Presiden Libya Moammar Khadafi. Jika ditotal, Khadafi menyumbang sekitar Rp 40 miliar.

Pendirian masjid itu bermula dari perkenalan Ustad Arifin dengan beberapa rekan di Libya yang mengetahui niat Presiden Khadafi mewakafkan hartanya dan ingin dibangunkan masjid di Indonesia. Bantuan diberikan kepada orang yang memiliki kapasitas kepemimpinan dan tidak memiliki kecenderungan berpolitik praktis atau memiliki paham radikal.

Pada bulan Ramadan 2004, Ustad Arifin bertemu langsung dengan Khadafi dan berbicara visi serta pola syiar Islam yang selama ini ditempuh. Ternyata pertemuan itu menjadikan pemimpin Libya tersebut yakin untuk memberikan bantuan dana yang pertama akan dibangunkan masjid.

''Awalnya saya tidak menyangka kalau ternyata mendapat amanah begitu besar untuk mengelola masjid dari dana yang disumbangkan Moammar Khadafi. Ini benar-benar rahmat Allah yang tidak disangka-sangka,'' ucapnya.

''Dalam doa, saya selalu meminta 'Ya Allah, jadikan aku hamba-Mu dan jadikan aku alat-Mu dalam mensyiarkan Islam','' ucap Arifin.

Namun, di balik apa yang didapatkan berupa kepercayaan dari Khadafi tersebut ternyata hal yang lebih besar dibebankan kepada sosok yang awalnya tinggal di Sawangan Depok itu. Karena bantuan berupa wakaf, dia harus melakukan amanat dari pemberi bantuan.

Ternyata salah satu yang disyaratkan berupa larangan untuk menjadikan pusat keagamaan itu sebagai basis gerakan Islam radikal. Menurut Ustad Arifin, Presiden Khadafi bukanlah orang yang merestui siar Islam dengan tindakan kekerasan. Terorisme yang dituduhkan dunia Barat kepada kaum muslimin, meski berupa oknum, juga menjadi keprihatinan Khadafi. Hal itulah yang melandasi dia memperkuat kegiatan penyebaran Islam dengan cara yang santun.

''Salah besar kalau ada pemberitaan yang mengatakan bahwa Libya merupakan sarang teroris. Jauh, sangat jauh dari perkiraan atau tudingan yang selama ini dialamatkan. Dan, hal itu juga yang tidak dibolehkan berkembang di lingkungan ini,'' ucapnya. (jawapos.co.id)

0 komentar:

Posting Komentar

 

COPASAJEE Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template